Pages

Subscribe:

Labels

Connect With Us

Senin, 10 September 2012

'BATU LUBANG' Gerbang Sejarah ke Kota Sibolga


Traveling-Tooootttt… toottt… toooottt!!” Tiga kali bunyi klakson panjang dan pendek sebuah truk Fuso, yang datang dari arah Sibolga menuju Tarutung, terdengar membahana di mulut dua terowongan pendek, terkenal dengan sebutan Batu Lubang, Jumat (17/10).

 Setelah tidak ada jawaban balasan dari mulut terowongan dari arah berlawanan, sang sopir pelan-pelan melajukan truknya masuk ke terowongan pertama sepanjang 10 meter, sambil sesekali membunyikan klaksonnya dengan kuat. Klakson terus menjerit sampai truk melewati terowongan kedua yang memiliki panjang sekitar 8 meter. Kendaraan pribadi yang melaju di belakang truk, mengikut sambil juga sesekali membunyikan klaksonnya.

 Pemandangan itu sedikit mengundang penasaran saya. Apakah membunyikan klakson itu murni karena menghindari ‘ciuman’ kendaraan di tengah terowongan lembab dialiri air gunung itu, atau ada mistis tertentu?

‘Tanda Permisi’
 Beberapa cerita dari mulut ke mulut yang saya kumpulkan, tradisi membunyikan klakson di Batu Lubang memang wajib hukumnya. “Di samping sebagai tanda bagi arus kendaraan dari arah berlawanan, juga sebagai tanda ‘permisi lewat’ pada ‘penghuni’ Batu Lubang!” kata P.Hutagalung, seorang sopir bus, warga Tapteng.

 Ia menuturkan sendiri pengalamannya. Bertahun lalu, pernah dirinya menyopiri bus dari Medan menuju Sibolga. Sebenarnya sesuai kebiasaan, ia selalu membunyikan klakson. Namun saat itu ia lupa. Waktu itu hari sudah subuh, sekitar pukul 5 dinihari.

 Saat melintas di tengah terowongan yang memiliki panjang 10 meter, bus yang disopirinya mendadak mati mesin. Jantungnya kontan berdegub kencang. Distater, mesin tetap tak mau hidup. “Terus terang, saat itu saya sempat keringat dingin,” tuturnya. Apalagi suasana gelap gulita, bunyi air mengalir mendesau-desau di sekeliling lubang. Kemudian dia ingat kalau sebelum masuk terowongan, ia lupa membunyikan klakson.

 “Ingat cerita teman-teman sopir, saya lalu merokok ‘sepukul’. Setelah itu menghidupkan sebatang rokok lain, turun dari bus, meletakkan rokok di sisi terowongan sambil bilang: ‘Sattabi da Oppung…’ Setelah itu, saya kembali ke tempat duduk sopir, mencoba menyalakan mesin. Ternyata hidup. Saya pun segera melaju menuju Sibolga,” kisahnya.

 Apakah rokok yang diletakkannya di terowongan yang ‘memfasilitasi’ mesinnya dapat menyala kembali, Hutagalung tak berani berkomentar. “Wallahualam…!” senyumnya.

 Kisah senada juga disampaikan T Nasution, sopir bus L-300 trayek Sibolga-Medan. Ia menceritakan, mesin mati tiba-tiba di tengah lubang juga pernah dialaminya beberapa tahun lalu. “Ingat cerita-cerita sesama sopir, saya ambil kotak rokok saya yang masih berisi setengah, saya letakkan di sisi terowongan. Setelah itu, saya hidupkan mesin, eh bisa menyala. Barulah saya melanjutkan perjalanan. Memang saat itu, saya juga lupa membunyikan klakson,” kisahnya.

 Kedua kisah sopir itu terjadi beberapa tahun lalu, saat kawasan Batu Lubang masih bernuansa angker. Diakui, saat itu Batu Lubang masih gelap gulita khususnya malam hari. Maklum, belum dipasang lampu sorot seperti saat ini.

 Cerita-cerita bernada seram senada, cukup banyak beredar di kalangan masyarakat Sibolga-Tapteng, khususnya di kalangan sopir. Tapi tak semua percaya. Ada juga yang berkata, kejadian mati mesin di tengah Batu Lubang hanya kebetulan semata. “Ahh…, tak ada itu. Mungkin sopirnya saja yang tak mencek kondisi mesinnya sebelum melakukan perjalanan,” kata A Nst, seorang warga Tapteng yang cukup kuat dalam agama.

 Benar tidaknya cerita-cerita itu, yang jelas belakangan ini, cerita-cerita serupa sudah jarang terdengar. Maklum, terowongan yang menjadi salahsatu bukti peninggalan sejarah perjuangan rakyat Tapanuli ini, sudah lebih tertata. Di tengah terowongan, beberapa lampu sorot sudah dipasang. Terowongan juga terus diperlebar dengan cara pelan-pelan mengikis batu-batu cadas yang membentengi terowongan. Di mulut terowongan dari arah Sibolga, ada gazebo dibangun untuk tempat memandang-mandang Kota Sibolga dari ketinggian. Beberapa pernik yang mencerminkan sentuhan modernisasi juga dibangun di sekitar Batu Lubang, yang berhasil mengurangi kesan seram.

 Suasana di lokasi Batu Lubang ini sendiri sangat sejuk. Desau air menjadi ciri khas. Di lokasi Batu Lubang, memang terdapat tiga air terjun yang mengalir menuju sungai Kota Sibolga. Air terjun pertama dapat dijumpai saat akan tiba di lokasi Batu Lubang. Dua lainnya berada tepat di atas Batu Lubang. Terowongan pun lembab dengan aliran air.

Pemandangan alam di kiri dan kanan jalan sekitar terowongan masih berupa hutan, berikut lembah dan ngarai yang terjal. Kedalaman jurang di sekitar terowongan itu diperkirakan mencapai ratusan meter. Konon, sudah puluhan kendaraan yang terjun ke jurang tersebut.

Hindari ‘Ciuman’
 Lepas dari cerita berbau mistis di Batu Lubang, menurut Robert Tarihoran (38), warga Desa Simaninggir yang dipercaya Dinas Pekerjaan Umum Sumut ‘menjaga’ Batu Lubang, tradisi klakson lebih untuk mencegah terjadinya ‘ciuman’ kendaraan di tengah lubang, yang dapat mengakibatkan macetnya arus lalu lintas.

 “Klakson menjadi isyarat bagi kendaraan dari arah berlawanan, bahwa saat itu ada kendaraan yang akan melintas dari terowongan. Soalnya, jalan masuk ke Batu Lubang tepat berada di tikungan yang cukup sempit. Hanya dapat dilalui satu kendaraan roda empat saja. Karena itu, arus kendaraan harus satu arah saja yang bisa lewat dalam satu waktu,” tuturnya.

 Ia menjelaskan, jika pengemudi tidak membunyikan klakson, dikhawatirkan terjadi pertemuan kendaraan di tengah lubang. Hal itu jelas dapat menimbulkan kecelakaan, atau mengakibatkan kemacetan lalu lintas. Kalau terjadi ‘pertemuan’, maka harus ada yang mengalah, dengan cara mundur kembali. Ini tentu menyebabkan arus lalu lintas semakin macet, khususnya jika kendaraan terus berdatangan dari belakang.
Buah Kerja Rodi
 Hasil penelusuran METRO dari berbagai sumber, dua Batu Lubang yang terletak di Desa Simaninggir ini, merupakan bukti peninggalan sejarah perjuangan rakyat Tapanuli. Dikisahkan, Batu Lubang dulunya dibuat dan dikerjakan oleh bangsa Indonesia sendiri. Mereka adalah para pejuang kemerdekaan RI yang ditawan oleh penjajah Belanda dan Jepang.

 Sekitar tahun 1930, para penjajah Belanda dan Jepang menghadapi kesulitan melewati jalan ini, karena dihempang batu cadas dan hutan belantara. Buntutnya, kaum penjajah memaksa para pejuang Indonesia ini menjadi pekerja paksa (rodi), untuk memahat batu-batu cadas ini hingga jalan Tarutung-Sibolga (Tapanuli Tengah) bisa tembus.

 Pada masa penjajahan Jepang, pembuatan Batu Lubang ini terus berlanjut hingga selesai dan dapat dilalui oleh kendaraan bermotor. Konon, pada waktu pembuatan Batu Lubang, banyak para pejuang yang menjadi korban dan tidak sedikit pejuang yang mati. Yang mati, mayatnya langsung dibuang ke jurang.

 Selama bertahun-tahun dibiarkan tetap sempit, sekitar tahun 1991, akhirnya pemerintah akhirnya memutuskan untuk memperlebar terowongan. Tapi kali ini tak lagi dengan memahat, melainkan pakai dinamit.

Terpanggil Jadi Penjaga
 Dulu, Batu Lubang terkesan seram, karena tidak ada lampu maupun penjaga. Namun saat ini, kesan itu sudah berkurang jauh. Sudah 15 tahun lamanya, Batu Lubang diawasi seorang penjaga, yang digaji Dinas Pekerjaan Umum Rp500 ribu per bulan.

 “Dulu sejak tahun 1993, Batu Lubang ini dijaga dan diawasi mertua saya, Serep Simbolon (almarhum, red). Namun sejak mertua saya meninggal awal 2008, saya yang jaga,” kata Robert Tarihoran.

 Ditanya kisah terpanggilnya mertua kemudian dirinya menjadi penjaga Batu Lubang, Robert menjelaskan, hal itu dimulai tahun 1991, saat ada pengeboman untuk pelebaran terowongan di di Batu Lubang.

 “Tak lama setelah pengeboman, suatu malam saat tidur, mertua saya bermimpi. Ia bermimpi didatangi seseorang, yang mengatakan agar mertua saya membersihkan Batu Lubang. ‘Kau beserta anakmu akan kuberikan alat kompresor untuk membersihkan debu yang ada di Batu Lubang’ Itulah pesan yang diterima mertuaku dalam mimpinya,” kata ayah lima anak ini.

 Beberapa hari setelah mimpi itu, mertuanya didatangi Pegawai Dinas PU, dan ditawari pekerjaan untuk merawat dan membersihkan jalan sepanjang Batu Lubang. Pekerjaan sebagai penjaga dilakoni mertuanya sejak tahun 1993 sampai tahun 2008, dengan gaji terakhir Rp500 ribu per bulan.

 Sebelum mertuanya meninggal pada Pebruari 2008, pekerjaan sebagai penjaga terowongan diwariskannya kepada sang menantu, yaitu Robert sendiri. Gaji tetap sama, Rp500 ribu per bulan.

 Cukupkah untuk menghidupi dan menyekolahkan kelima anaknya? “Yah, pesan mertua hanya satu, selama menjaga Batu Lubang, saya harus selalu memiliki niat baik. Dengan demikian, saya akan diberikan rejeki. Pesan itu saya pegang, dan sampai sekarang kelima anak saya masih sekolah,” katanya.

 Rezeki dimaksud datang dari para sopir yang lewat Batu Lubang, yang kerap memberikan sekedar uang rokok kepadanya. “Rezeki itu khususnya sering datang dari kendaraan prbadi,” ungkapnya mensyukuri berkat yang diterimanya.

Objek Wisata
 Bagi orang yang belum pernah melewati Batu Lubang, mungkin ingin tahu rasanya melewati Batu Lubang. Jujur, kesannya cukup mencekam. Untungnya, panjang terowongan hanya 10 meter ditambah 8 meter. Di terowongan 10 meter itu yang kesannya agak dramatis, karena terowongan menikung, dengan air menetes di sana sini. Jalan di terowongan itu sendiri sama sekali tidak mulus alias rusak berat. Maklum, tetesan air terus menerus merusak jalan.

 Namun demikian, setelah Batu Lubang terang benderang dan tidak seram lagi, belakangan ini beberapa pengunjung sudah dari Kota Sibolga ada yang sengaja datang ke tempat ini untuk menikmati pemandangan dan sejuknya udara. Belum lagi para pelintas yang memilih istirahat sejenak menikmati pemnadangan, di gazebo di mulut terowongan.


 “Mungkin kalau lebih ditata dengan membangun beberapa fasilitas, Batu Lubang akan menjadi lokasi wisata alam/sejarah yang lebih layak jual,” kata Robert.

0 komentar:

Poskan Komentar